Doc. Koryah - 001



The Dream Team of Rohis Smkn

Tampilkan postingan dengan label التربيةالدعوة. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label التربيةالدعوة. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juni 2012

Selalu Siap Berjuang Bersama Kalian Semua, Wahai Jiwa-Jiwa Pemimpin PERADABAN !!!! (bagian 1)


Mengotak-atik RUBIK, sudah biasa.


Membolak-balik TTS, itu juga biasa.


Ndobrak Pabrik ROHIS, Itu LUAR BIASA.


Pabrik Rohis adalah SINTESA PERADABAN.


Definisi
Pabrik adalah suatu bangunan industri besar di mana para pekerja mengolah benda atau mengawasi pemrosesan mesin dari satu produk menjadi produk lain, sehingga mendapatkan nilai tambah. Kebanyakan pabrik modern memiliki gudang atau fasilitas serupa yang besar yang berisi peralatan berat yang digunakan untuk lini perakitan. Pabrik mengumpulkan dan mengkonsentrasikan sumber daya: pekerja, modal, dan mesin industri.(Wikipedia,2012)


Rohis adalah Rohis berasal dari kata "Rohani" dan "Islam", yang berarti sebuah lembaga untuk memperkuat keislaman. Rohis biasanya dikemas dalam bentuk ekstrakurikuler (ekskul). Padahal fungsi Rohis yang sebenarnya adalah forum, mentoring, dakwah, dan berbagi. Susunan dalam rohis layaknya OSIS, di dalamnya terdapat ketua, wakil, bendahara, sekretaris, dan divisi-divisi yang bertugas pada bagiannya masing-masing Rohis umumnya memiliki kegiatan yang terpisah antara anggota pria dan wanita hal ini dikarenakan perbedaan muhrim di antara anggota. kebersamaan dapat juga terjalin antar anggota dengan rapat kegiatan serta kegiatan-kegiatan di luar ruangan. utama rohis mendidik siswa menjadi lebih islami dan mnegenal dengan baik dunia keislaman, dalam pelaksanaannya anggota rohis memiliki kelebihan dalam penyampaian dakwah dan cara mengenal Allah lebih dekat melalui alam dengan tadzabur alam, hal itu karena dalam kegiatannya rohis juga mengajarkan hal tersebut. Rohis selalu mendekatkan anggotanya kepada Allah SWT, dan menjauhkan anggotanya dari terorisme, kesesatan, dsb.(Wikipedia,2012)

Rohis manfaatnya sangat luar biasa, ketika banyak masalah kita bisa berbagi ke sahabat kita lewat Qodoya (salah satu acara dalam mentoring) dan mendapatkan banyak solusi dari sahabat kita yang seiman. ana mersakan itu. ana pun banyak teman di rohis ini. dan berbagai macam rupa orang kita bertatap muka. tapi belkangan ini anggota rohis semakin sedikit (berkurang peminatnya). tapi perjuangan harus tetap kita teruskan yakinlah Alloh bersama kita. saya jadi ingat janji Alloh dalam Al-Qur'an "Barang siapa menolong agama Alloh, niscaya Alloh akan menolong kita". tetap semangat dan terus berjuangan kebenaran harus kita tegakan.



Mendobrak Diri Sendiri 

Batasan, kadang hanya kita sendiri yang menciptakan. Karena itu, butuh keberanian, tekad, dan kematangan diri untuk mendobrak dan menciptakan kesuksesan demi kesuksesan sejati!

Setiap kali menghadapi tantangan dan cobaan, sebenarnya kita sedang dipersiapkan untuk menjadi insan luar biasa yang mampu menjadi pemenang-pemenang sejati kehidupan.
Pepatah Tiongkok kuno mengatakan: zi wo tu po (mendobrak diri sendiri)! Maka sebenarnya setiap insan tercipta dengan segala macam potensi untuk mengatasi berbagai halangan & rintangan. Hanya saja, adalah pilihan bagi kita, untuk mau selalu "mendobrak", atau sekadar menerima kondisi kenyamanan yang telah diterima.
Manusia pada dasarnya punya hawa nafsu yang membuatnya tak pernah puas. Jika dilihat dari sisi positif, sebenarnya sifat tak pernah puas ini justru akan mendorong orang menuju pada target yang selalu diperbarui. Sehingga, selalu ada kekuatan dan "daya dobrak" yang akan mengangkat derajat seseorang menuju pada level lebih tinggi yang terus diperbaiki. Namun sebaliknya, jika ia langsung berpuas diri saat menerima hasil yang telah diraih-kemudian bertahan di zona nyaman tersebut-bisa jadi ia hanya akan jadi "katak dalam tempurung" yang tak tahu dunianya sendiri.

Takut gagal sebelum memulai, takut ditolak sebelum presentasi, takut jatuh sebelum berusaha. Semua itu memang mungkin terjadi. Ketakutan itu memang bisa saja nyata. Tapi, tanpa mencoba, kita tak pernah tahu, ada hal apa di balik ketakutan itu jika berhasil kita terobos.
Karena itu, sebenarnya, keberanian untuk mendobrak diri sendiri harus kita miliki. Sebab, sebagai manusia, kita diberikan berjuta potensi oleh Yang Maha Kuasa. Adalah tanggung jawab kita untuk memilih, potensi apa yang patut kita kedepankan agar mampu meraih prestasi demi prestasi. Atau, kita hanya berhenti pada satu titik dan kemudian menunggu mati.
Mari, dengan sikap & semangat mendobrak diri, kita maksimalkan segala potensi untuk mencapai prestasi! Untuk itu, kita harus mau membayar lebih. Dengan berjuang lebih keras, bekerja lebih giat, berkarya lebih rajin pada titik di mana kita memiliki kemampuan. Berbekal kemauan kuat dan kekayaan mental, kita wujudkan rasa syukur atas karunia Tuhan, dengan memaksimalkan segala potensi yang telah diberikan-Nya. Sehingga, dengan semangat tersebut, saat sukses diraih, akan segera disusul sukses lain yang lebih tinggi. Begitu seterusnya hingga batasan itu berhenti pada titik ajal, sehingga kita bisa meninggalkan dunia ini dengan penuh arti.


Salam Sukses Luar Biasa!


Bersambung...


Sumber :
http://id.wikipedia.org
http://www.andriewongso.com/artikel/aw_artikel/4088/Mendobrak_Diri_Sendiri/

Picture :
Google.com

Rabu, 30 November 2011

Bersama ROHIS, Kutetapkan Yakinku

dakwatuna.com - Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, sahabat-sahabat Kerohanian Islam atau sering dikenal ROHIS di seluruh Indonesia, baik tingkat menengah ataupun atas, semoga Allah memberikan keistiqamahan dalam jalan kalian, dalam keikutsertaan kalian baik aktif ataupun pasif.
Saya hanya ingin sedikit sharing dengan kalian, tentang ROHIS ini, tentang pengalaman, tentang cerita suka dan duka, tentang manfaat teman-teman bergabung dengan ROHIS.
ROHIS, sebuah lembaga yang telah membesarkanku, mendidik dan mengajarkan tentang berbagai hal.
ROHIS merupakan satu lembaga ekstrakurikuler yang lengkap menurut pandangan saya,
ia mengajarkan untuk berorganisasi,
ia mengajarkan untuk dakwah dan ibadah,
ia mengajarkan untuk membina lingkungan sekolah,
ia mengajarkan untuk perencanaan kegiatan,
ia mengajarkan untuk komunikasi efektif,
ia mengajarkan untuk olahraga dan pendidikan jasmani,
ia mengajarkan untuk berjiwa sosial kemasyarakatan,
ia mengajarkan untuk menjadi pemimpin sejati,
ia mengajarkan segala hal yang kita butuhkan dan segala hal yang tidak kita butuhkan tapi bermanfaat untuk kita.
Namun satu hal yang tidak akan ditemui di ekskul manapun adalah ROHIS bisa menjadi jalan Hidayah bagi siapa pun termasuk pengurus dan anggotanya. inilah yang akan kita bahas teman-teman.
Jalan kebaikan, jalan petunjuk dan jalan hidayah, insya Allah.
Meskipun kita tidak merasakannya ketika aktif di ROHIS, tidak merasakan seketika itu juga, tapi yakinlah, suatu saat, kita akan menemukan sentuhan tersembunyi yang telah menjadikan kita seperti sekarang ini.
Mungkin ketika kuliah, atau setelah kerja, atau bahkan ketika tua renta, kita baru teringat, bahwa awal mula kita mengenal tarbiyah islamiyah (pembinaan Islam) adalah di ROHIS ini.
Awal yang mengubah emosi jiwa menjadi jiwa yang teduh penuh cinta,
mengubah dosa menjadi amal pahala,
mengubah rasa takut menjadi berani penuh semangat,
mengubah cara pandang negatif menjadi positif,
Semua mungkin berawal dari sini, dari ROHIS ini.
Oleh karena itu, saya hanya ingin berpesan, siapa pun kita, apapun latar belakang kita, semaksiat-maksiatnya kita, jangan sampai kita meninggalkan organisasi ini, karena ia adalah jalan yang Allah sediakan, untuk membuka hati, membuka emosi, membuka jalan hidayahNya.
Jalan yang menghadirkan pelaku-pelaku kebaikan,
jalan ukhuwah dan kebersamaan yang erat menyatukan semua potensi kejujuran,
jalan yang suatu saat akan membuat kita sadar, bahwa di sinilah kita dibesarkan,
dengan segudang masalah,
Tetaplah berada bersama para pelaku kebaikan,
niscaya kebaikan itu akan mengikutimu,
dan akan mengubah paradigmamu,
bahkan mengubah maksiat-maksiatmu,
Yakin dan tetapkan tekadmu,
inilah jalan terbaik untuk masa depanmu,
bersama ROHIS, aku tetapkan yakinku.
Untuk sahabat ROHIS di seluruh Indonesia, para alumninya,
khusus ROHIS SMA N 55 dan Keluarga Alumni Rohis SMA N 55 (KARIMA),
mari kita bersama menjadi penerus peradaban,
yang melahirkan generasi-generasi rabbani,
mari kita sambut seruan yang mulia,
mari bersama ikuti langkah perjuangan,
di medan dakwah sekolah kita tercinta.
.....


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/09/14991/bersama-rohis-kutetapkan-yakinku/#ixzz1fChBCk1m

Senin, 09 Mei 2011

Biar... Biarlah.



Biarlah Allah saja yang menyemangati kita
sehingga tanpa sadar setiap peristiwa
menjadi teguran atas kelalaian kita.

Cukuplah Allah saja yang memelihara ketekunan kita,
karena perhatian manusia terkadang menghanyutkan keikhlasan.

Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang bermakna,
pribadi yang berbaur, yang mampu menyemangati yang lain, dan

Saat sendiri ia mampu menguatkan dirinya sendiri,

Amiiin ya Mujibassailin...

Kamis, 03 Maret 2011

JANGAN TERLAMBAT! لاَ تَتَأَخَّرْ

Akhir-akhir ini kita disuguhkan sebuah dinamika sejarah yang begitu cepat, dahsyat dan tak terduga. Kekuatan-kekuatan yang selama ini begitu jumawa karena merasa dapat berbuat apa saja, satu persatu rontok dan jatuh tersungkur.


 
Bukan oleh jet tempur dan tank baja milik kekuatan asing yang selalu mereka peringatkan ancamannya, bukan pula oleh pihak oposisi yang selalu mereka jadikan seteru kekuasaannya, bukan pula oleh kudeta orang dalam yang tak sabar terlalu lama menanti gilirannya. Tapi oleh rakyatnya sendiri yang datang tanpa senjata, mengetuk dan menggedor pintu-pintu kesombongannya .



Peristiwa yang sungguh-sunguh memberikan begitu banyak pelajaran berharga bagi kita sekalian. Salah satunya dapat diungkapkan dalam satu kalimat pendek; Jangan Terlambat!



Ya, keterlambatan menyadari keinginan dan penderitaan rakyatnyalah yang menyebabkan para penguasa itu terjungkal. Sebab, kesadarannya baru muncul ketika rakyat dengan segenap kemarahannya sudah tiba di halaman istananya. Ketika janji-janji manis sudah tidak dapat dipercaya kebenarannya.



Keterlambatan seperti ini tentu tidak berdiri sendiri, tapi merupakan buah dari keterlambatan yang lebih besar sebelumnya, yaitu keterlambatan memahami hakikat kepemimpinan yang merupakan amanah amat besar di pundaknya. Itupun juga buah dari keterlambatan yang lebih besar lagi, yaitu terlambat memahami hakekat kehidupan yang harus tunduk dan menghamba kepada Allah apapun kedudukan dan jabatannya.



Seandainya dia benar-benar memahami dan menghayati posisinya sebagai hamba Allah, maka firman Allah dalam sebuah hadits Qudsi, "Wahai hamba-Ku, sungguh aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku haramkan (kezaliman itu) di antara kalian, maka janganlah kalian saling berbuat zalim." (HR. Muslim) cukuplah akan mengingatkan dirinya dari kezaliman yang paling kecil, apalagi yang paling besar.



Cukup pulalah sebagai pemimpin, kalau keimanannya benar, dirinya akan merinding manakala ingat pesan baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,



مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ



"Siapapun hamba yang Allah berikan jabatan untuk mengatur urusan rakyatnya, namun ketika mati dia berada dalam keadaan menipu rakyat, niscaya Allah haramkan surga baginya." (HR. Muslim)



Keterlambatan inilah yang dialami Fir'aun. Ketika dirinya sudah 'megap-megap' menjelang tenggelam di laut merah, dia baru sadar akan kekhilafannya, lalu berkata, "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang diimani oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (QS. Yunus: 90)



Maka Allah menjawab tegas, "Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dulu…" (QS. Yunus: 91)



Seakan tidak ingin ketinggalan untuk mengikuti jejak 'seniornya', para diktator itupun baru sadar dengan keinginan rakyatnya seraya menjanjikan berbagai perubahan disaat segala sesuatunya telah terlambat. Sekian puluh tahun kesempatan tersedia baginya untuk melakukan apa yang sekarang dia ucapkan dan janjikan, namun tidak ada realisasinya. Maka rakyat pun tidak percaya lagi janji-janji manisnya. Seandainya hal tersebut diucapkan dan dilaksanakan 5-10 tahun lalu, niscaya mereka akan jadi pahlawan yang dielu-elukan rakyatnya. Namun ketika terlambat, caci maki dan kehinaan menjadi balasannya.



Inipun pelajaran bagi kita dalam wilayah pribadi, agar jangan terlambat menyadari dan mengambil tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab kehidupan ini selalu bergulir dan mengalir seiring bergulir dan mengalirnya waktu yang tidak pernah menunggu.



Banyak fenomena keterlambatan yang sering mendera kehidupan kita. Terlambat menunaikan kewajiban hingga menumpuk satu demi satu. Terlambat membangun kematangan pribadi, baik dalam urusan agama maupun dunia. Terlambat menangkap sinyal keinginan atau kekecewaan pihak lain, apakah suami atau isteri, orang tua atau anak-anak, tetangga atau teman sejawat dll. Terlambat memperkirakan berbagai tantangan yang ada di depan, mencari solusi sebelum permasalahan tak dapat teratasi, mengurai problem satu persatu sebelum liar tak menentu. Lambat pula menumbuhkan kesadaran untuk melakukan antisipasi atau merespon berbagai tuntutan yang menghampiri. Maka, dampaknya adalah kekecewaan, kegagalan, penolakan, sikap tidak terkendali, dan tidak jarang berujung pada jatuhnya harga diri.



Jadi, terlambat bisa jadi merupakan kata kunci dari serangkaian problem yang kita hadapi. Bukan karena kemampuan atau kepandaian tidak dimiliki, bukan pula karena minimnya fasitilitas yang ada pada diri sendiri, bukan pula karena tiadanya kecerdasan dan berbagai teori.



Ibarat seorang pengendara, manakala sejak awal dia sudah dapat mengantisipai berbagai kejadian di depan, lalu mengambil ancang-ancang dalam jarak yang masih luang, maka pada saatnya dia dapat menghindar dengan aman. Lain halnya kalau ancang-ancang tersebut baru diambil beberapa meter saja sebelum menghindar, akibatnya akan fatal. Walaupun mobilnya mewah dengan berbagai fasilitas tersedia, jalan mulus dan lurus serta fisik yang prima.



Akan tetapi, selama kita masih diberi kesempatan hidup di dunia ini, peluang untuk memperbaiki segala keterlambatan yang pernah kita lalui masih terbuka, selagi kita masih mau memperbaiki, jujur terhadap kekurangan diri, dan optimis dengan masa depan yang lebih berarti. Maka, kalau kita pernah merasa terlambat dalam kehidupan ini, hendaknya jangan lagi terlambat untuk kedua kali. Tidak ada kata terlambat selagi masih ada kesempatan memperbaiki.



Keterlambatan yang sesungguhnya sekaligus mengerikan adalah jika dia baru disadari ketika tidak ada lagi kesempatan untuk kembali….



"Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, 'Ya Tuhanku, kembalikan aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja." (QS. Al-Mu'minun: 99-100)



Ya Allah, jangan jadikan kami orang-orang yang terlambat memperbaiki diri dan menata hidup kembali. Amin.



Riyadh, Rabi'ul Awal, 1432H

Abdullah Haidir, LIPIA
Angkatan 1997

Rabu, 16 Februari 2011

Atmosfir Keshalihan Dari Saudara Yang Shalih

Pagi nan Cerah
Achmad Fuaddudin : Atmosfir Keshalihan Dari Saudara Yang Shalih

Jalan da'wah mengantarkan kami bisa bertemu dan bersilaturrahim dengan banyak orang. Jalan inilah yang menjadikan kami memiliki saudara lebih banyak dari yang umumnya dimiliki oleh orang lain. Ikatan persaudaraan di jalan ini, yang dilandasi kesamaan visi dan misi, menjadikan kami menjadi lebih dekat dari persaudaraan karena nasab atau kesamaan organisasi umum sekalipun.

Di sinilah kami bisa berjumpa dan berinteraksi secara baik dengan orang-orang shalih, baik mereka yang berusia muda maupun yang sudah sepuh. Tak ada kebaikan yang lebih indah dari pertemuan kami dengan mereka. Orang-orang tua yang lebih lama mengecap kehidupan da'wah ini dibanding kami. Bahkan orang-orang muda usia yang semangatnya lebih benderang daripada kami. Di sini, kami bisa menemui mereka begitu dekat.

Pertemuan kami dengan mereka, ternyata membawa pengaruh ruhaniyah yang begitu hebat. Kami bisa merasakan suplay energi ruhiyah yang besar saat kami bertemu dan berinteraksi dengan mereka. Kami merasakan adanya suasana batin yang baru, yang mendorong dan memotivasi kami untuk lebih banyak melakukan amal-amal shalih. Perasaan itu, bahkan muncul tanpa mereka harus memberikan nasihat atau taushiyah untuk kami. Karena kami sudah bisa merasakan pengaruh aura keshalihan itu, sejak kami melihat, mendengar suara mereka. Sebagaimana Yunus bin Ubaid yang mengakui kenikmatan besar ketika melihat Al Hasan Al Bashri rahimahullah. Ia mengatakan "Seseorang bila melihat kepada Al Hasan Al Bashri, akan menerima manfaat dari dirinya, meski orang itu tidak melihat Al Hasan Al Bashri beramal dan tidak melihat ia mengeluarkan ucapan apapun." (Risalah Al Mustarsyidin, Abi Abdillah Al Haris Al Muhasibi, hal. 60).

Kami pun menjadi mengerti tentang tradisi dan kebiasaan sebagian para salafushalih yang menganjurkan agar kita tidak putus berinteraksi dan bertemu dengan orang-orang shalih. Inilah pengalaman dan pelajaran berharga yang kami petik di jalan ini. Di antara para salafushalih ada yang mengatakan, "Jika aku merasakan keresahan hati, maka aku segera pergi dan melihat wajah Muhammad bin Wasi' (Nuzhatul Fudhola, 1/526). Atau ungkapan Abdullah bin Mubarak, "Jika aku melihat wajah Fudhail bin Iyadh, aku biasanya menangis." Itulah atmosfir keshalihan saudara yang shalih.

Dari sinilah, kami menemukan pelajaran bahwa keshalihan seseorang itu memang memiliki aroma yang bisa dihirup oleh siapapun yang berada dan berinteraksi dengannya. Aroma keshalihan seseorang, akan bisa memberi energi dan suasana barudalam hati orang yang melihat maupun ada di sekitarnya. Mungkin ini pula rahasianya, kenapa Rasulullah SAW pernah mengatakan, bahwa seorang beriman itu ibarat pembawa minyak wangi di mana orang yang didekatnya boleh jadi terciprat oleh minyak wanginya, atau paling tidak bisa mencium aroma wanginya...

Kami merasakan, mereka orang-orang shalih itu memang memberikan aroma keshalihan kepada kami agar kami juga melakukan keshalihan-keshalihan yang lain. Mereka adalah orang-orang yang membantu kami melanjutkan perjalanan ini. Mereka yang menyuplai semangat dalam diri kami agar kami mampu menyelesaikan perjalanan ini. Mereka yang meringankan langkah kami saat kami harus menahan risiko keasingan di tengah realitas yang berbenturan dengan keimanan. Duduk bersama orang-orang shalih memang menambah energi kekuatan seseorang dalam beramal. Sebagaimana perkataaan Abu Musa Al-Asyari rahimahullah, "Sungguh duduk bersama Abdullah bin Mas'ud seperti yang pernah aku lakukan, lebih kuat kesannya dalam jiwaku daripada beramal satu tahun."

Atau, perkataan Imam Malik rahimahullah, "Setiap aku merasakan kesesatan dalam hati aku mendatangi Muhammad bin Al Mungkadir untuk melihatnya, lalu jiwaku menjadi halus dalam beberapa hari." (Risalatul Mustarsyidin, Al Muhasibi).

Syukur alhamdulillah, atas pertalian sahabat dengan orang-orang shalih.

Oleh M. Lili Nur Aulia, disadur dari buku Beginilah Jalan Da'wah Mengajarkan Kami.

Selasa, 08 Februari 2011

Aku Rindu Dengan Zaman Itu

Aku Rindu Dengan Zaman Itu
 
Aku rindu zaman ketika “halaqoh” adalah kebutuhan,
bukan sekedar sambilan apalagi hiburan

Aku rindu zaman ketika “membina” adalah kewajiban,
bukan pilihan apalagi beban dan paksaan

Aku rindu zaman ketika “dauroh” menjadi kebiasaan,
bukan sekedar pelengkap pengisi program yang dipaksakan

Aku rindu zaman ketika “tsiqoh” menjadi kekuatan,
bukan keraguan apalagi kecurigaan

Aku rindu zaman ketika “tarbiyah” adalah pengorbanan,
bukan tuntutan dan hujatan

Aku rindu zaman ketika “nasihat” menjadi kesenangan,
bukan su'udzon atau menjatuhkan

Aku rindu zaman ketika kita semua memberikan segalanya untuk da'wah ini

Aku rindu zaman ketika “nasyid ghuroba” menjadi lagu kebangsaan

Aku rindu zaman ketika hadir di “liqo” adalah kerinduan, dan terlambat adalah kelalaian

Aku rindu zaman ketika malam gerimis pergi ke puncak mengisi dauroh dengan ongkos ngepas dan peta tak jelas

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah benar-benar jalan kaki 2 jam di malam
buta sepulang tabligh dawah di desa sebelah

Aku rindu zaman ketika akan pergi liqo selalu membawa uang infak, alat tulis, buku catatan dan Qur'an terjemahan ditambah sedikit hafalan

Aku rindu zaman ketika seorang binaan menangis karena tak bisa hadir di liqo

Aku rindu zaman ketika tengah malam pintu depan diketok untuk mendapat
berita kumpul subuh harinya

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah berangkat liqo dengan ongkos jatah
belanja esok hari untuk keluarganya

Aku rindu zaman ketika seorang murobbi sakit dan harus dirawat, para binaan
patungan mengumpulkan dana apa adanya

Aku rindu zaman itu,

Aku rindu...



Ya ALLAH,

Jangan Kau buang kenikmatan berda'wah dari hati-hati kami

Jangan Kau jadikan hidup ini hanya berjalan di tempat yang sama

*[Rahmat Abdullah]*